Sabtu, 03 Desember 2011

askep rematik

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ageing  process dalam perjalanan hidup manusia merupakan suatu hal yang wajar akan dialami semua orang yang dikaruniai umur panjang, hanya lambat cepatnya proses tersebut bergantung pada masing-masing individu. Secara individu, pada usia di atas 60 tahun tejadi proses penuaan secara ilmiah. Hal ini akan menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi dan psikologis. Dengan bergesernya pola perekonomian dari pertanian ke industri maka pola penyakit juga bergeser dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular atau akibat penuaan (degeneratif).
Hingga kini dikenal lebih dari 100 macam penyakit sendi yang seringkali memberikan gejala yang hampir sama. Oleh karena itu pendekatan diagnostik sangat diperlukan agar didapatkan diagnosis yang tepat, sehingga akhirnya pasien memperoleh penatalaksanaan yang adekuat.Perlu diingat pula bahwa gangguan reumatik dapat merupakan manifestasi artikular berbagai penyakit dan sebaliknya beberapa penyakit reumatik mempunyai manifestasi ekstra-artikular pada beberapa organ.
Dalam lebih dari 2 dekade terakhir ini diketahui bahwa berbagaipenyakit remaik yang dianggap mempunyai dasar imunologik ternyataberkaitan dengan sistem hipokompatibilitas.

Sebagai seorang perawat professional dalam memberikan bantuan kepada lanjut usia melalui pendekatan proses keperawatan  perlu memperhatikan aspek pendekatan fisik, psikis, sosial dan spiritual. Dalam hal ini memberikan bantuan, bimbingan, pengawasan dan perlindungan untuk pertolongan lanjut usia  secara individu maupun kelompok seperti di rumah/ lingkungan keluarga yang diberikan oleh perawat.

B.     Tujuan

1.    Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan pengalaman belajar lapangan di harapkan mampu menerapkan asuhan keperawatan pada lansia yang mengalami masalah kesehatan dan mengetahui gambaran umum tentang rheumatoid arthritis yang terjadi pada lansia.

2.    Tujuan khusus
Setelah menyelesaikan pengalaman belajar klinik komunitas di harapkan mampu:
a.    Mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, serta tanda dan gejala yang terjadi pada lansia penderita rheumatoid artritis.
b.    Mengetahui penatalaksanaan asuhan keperawatan gerontik yang sesuai  diberikan pada lansia dengan rheumatoid arthritis.

C.    Metodologi

Metode penulisan yang digunakan dalam makalah ilmiah ini adalah metode deskriptif yang bertujuan memperoleh gambaran tentang masalah kesehatan yang terjadi saat ini dengan menggunakan teknik pengumpulan sbb :
1.    Wawancara
     Tekhnik ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang hal- hal yang perlu diketahui baik dari aspek fisik, mental, sosial budaya, ekonomi serta kebiasaan dilingkungan tersebut.
2.    Observasi
     Pengamatan dilakukan dengan mengamati hal-hal yang mendukung terjadinya masalah dalam perawatan anggota keluarga, misalnya lingkungan, serta prilaku atau kebiasaan
3.    Pengkajian Fisik
     Tekhnik ini dilakukan untuk mendapatkan data yang nantinya akan sangat mendukung dalam merumuskan masalah pada keluarga Tn.M, pengkajian dilakukan terhadapa semua anggota keluarga.
4.    Studi Kepustakaan
                 Merupakan suatu teknik dengan mencari dan menentukan sumber-sumber literatur atau buku-buku ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan studi kasus sebagai dasar teori.





D.    Sistematika Penulisan
Dalam penulisan makalah ilmiah ini penulis menyusun secara sistematis menjadii 5 bab yang terdiri dari:

Bab I          Pendahluan berisikan tentang latar belakang, tujuan penulisan ruang lingkup dan metode penulisan.

Bab II         Tinjauan Teoritis berisikan tentang konsep lansia, konsep dasar penyalit rematik, asuhan keperawatan lansia masalah rematik.

Bab III       Tinjauan Kasus berisikan tentang pengkajian, diagnose keperawatan, perencanaan, dan pelaksanaan serta evaluasi.

Bab IV       Pembahasan merupakan dari pengkajian, perumusan masalah kesehatan dan keperawatan, peencanaan, pelaksanaan serta evaluasi.

Bab V         Kesimpulan dan Saran berisikan kesimpulan dari asuhan keperawatan yang telah dilakukan serta saran-saran dari pihak-pihak terbaik.

Daftar pustaka
Lampiran-lampiran















BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Konsep Dasar Usia Lanjut
1.        Proses Menua
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Contantinides, 1994 yang dikutip oleh Wahjudi Nugroho, 2000).

Proses menua merupakan proses yang terus menerus  secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup. Proses menua setiap individu pada organ tubuh juga tidak sama cepatnya. Ada kalanya orang belum tergolong  lanjut usia (masih muda) tetapi kekurangan-kekurangan yang menyolok (deskripansi).

Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Walaupun demikian memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lansia.

2.        Teori – teori proses menua
1)   Teori biologi:
a.       Teori genetic dan mutasi
Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan  biokima yang diprogram oleh molekul/ DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.
b.      Pemakaian dan rusak
Kelebihan usaha dapat menimbulkan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai).
c.       Auto immune theory
Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tertentu sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
d.      Teori stress
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan  tubuh. Regenerasi jaringan tubuh tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stress yang menyebabkan sel-sel lelah terpakai.
e.       Teori radikal bebas
Tidak stabilnya radikal bebas mengakibatkan oksidasi oksigen bahan organic yang selanjutnya menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
f.       Teori rantai silang
Sel-sel yang tua reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen yang selanjutnya menyebabkan  kurang elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.
g.      Teori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah sel setelah sel-sel tersebut mati.

2)         Teori kejiwaan sosial
a.       Aktivitas atau kegiatan (activity theory)
Pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan social dan mempertahankan hubungan antara system social dan individu agar stabil dari usia pertengahan hingga usia tua.
b.      Kepribadian berlanjut
Merupakan gabungan teori di atas dimana perubahan yang terjadi pada seseroang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang dimilikinya.
c.       Teori pembebasan
Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran individu dengan individu lainnya. Dengan bertambahnya usia, seorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi social lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda: kehilangan peran, hambatan kontak social, berkurangnya komitmen.






3.    Peran dan hubungan antar manusia bagi usia lanjut
1)   Peran dan Hubungan Antar Manusia Yang Normal
Peran dan hubungan menggambarkan tanggung jawab individu dalam keluarga, pekerjaan dan keadaan social.Secara alamiah peran itu sesuai dengan budaya namun ada perbedaan dari setiap individu.Orang cenderung memperlihatkan identitas dan menggambarkan kemampuan dalam berperan.Setiap orang mempunyai perannya masing-masing misalnya; sebagai seorang laki-laki, wanita, suami, istri, orang dewasa, remaja, orang tua, anak, saudara, pelajar, guru, dokter, perawat dan lain-lain. Peran dilakukan orang selama hidupnya dan ia sering berusaha sesuai dengan peran yang dimiliki.

Peran memberikan nilai dan status social bagi seseorang.Setiap kelompok social mempelajari status, perilaku, symbol, dan hubungan yang dapat diterima oleh setiap peran. Perilaku, symbol dan pola hubungan setiap orang berbeda tergantung nilai dan norma social di mana individu itu berada.

2)   Peran, Hubungan dan Usia
Perubahan peran dan hubungan disesuaikan dengan perkembangan usia baik laki-laki maupun perempuan. Perubahan itu meliputi pengunduran diri, merasa kehilangan misalnya perubahan posisi dalam rumah atau kehilangan orang penting lainnya seperti suami atau istri yang meninggal. Semuanya ini dapat menimbulkan potensial trauma bagi lanjut usia. Dalam kehidupan nyata banyak orang tua marah atau merasa tersinggung karena kekuatan social mereka diberhentikan (pensiun)

Menurut American Society menggambarkan bahwa peran orang tua sudah tidak berdaya, lemah atau lekas marah dan tidak bermanfaat (sia – sia). Beberapa orang tua menerima peran ini  dan melakukan sebagai tindakan. Namun banyak orang yang tidak puas menerima stereotype ini dan secara kontinyu mengembangkan peran dan hubungan sampai usia 80 – 90 tahun.

3)   Pengkajian Peran dan Hubungan Antar Manusia
a.    Kaji status perkawinan individu (single, kawin, janda, cerai).
b.    Kaji respon kehilangan individu seperti suami, istri atau orang penting lainnya
c.    Apakah individu hidup sendiri atau dengan orang lain
d.   Jika individu tersebut hidup dengan orang lain, siapakah mereka dan apa cara mereka berhubungan? Apakah masih mempunyai struktur keluarga?
e.    Bagaimana seseorang menggambarkan hubungan dalam keluarga
f.     Kaji hubungan klien dengan teman karib.
g.    Kaji hubungan kerja
h.    Kaji perasaan klein yang sudah pensiun
i.      Kaji apakah klien merasa bagian dari masyarakat atau lingkungan

4)   Proses Keperawatan
Ada beberapa masalah yang muncul antara lain :
a.    Disfungsi berkabung
b.    Perubahan proses keluarga
c.    Isolasi social/gangguan interaksi social
d.   Gangguan komunikasi verbal

4.    Pemenuhan kebutuhan latihan dan aktivitas
a.         Pola aktivitas normal
Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olahraga, pengisian waktu luang dan rekreasi, berpakaian, dandan, makan, mandi, dan toilet. Olahraga dapat membentuk perilaku yang baik dan individu akan merasa lebih baik. Selain itu juga dapat mempertahankan tonus otot dan gerakan sendi. Untuk usia lanjut  perlu aktivitas yang adekuat untuk mempertahankan fungsi tubuh. Aktivitas tubuh /fisik memerlukan interaksi yang kompleks antara system saraf dan muskuloskeletal. Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan dengan peningkatan usia yaitu menurunnya aktivitas (kecepatan), masaa otot berkurang, menurunnya gerak persendian, agifity (kemampuan gerak cepat dan lancar menurun), dexterity (kemampuan memanipulasi ketrampilan motorik halus menurun), stamina menurun, koordinasi menurun. Selain itu ada beberapa penyakit yang mengganggu aktivitas misalnya syndroma otak organic, kerusakan neurologis, cedera muskuloskeletal, gout, kekurangan oksigen, malnutrisi, anemia dan gangguan emosional.





B.  Konsep Dasar Penyakit Rematik
1.   DEFINISI
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248). Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur (Felson dalam Budi Darmojo, 1999).
Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh (Hidayat, 2006).
Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan sering kali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi(www.medicastore.com).
Arthritis adalah istilah medis untuk penyakit dan kelainan yang menyebabkan pembengkakan/radang atau kerusakan pada sendi.Arthritis sendiri merupakan keluarga besar inflammatory degenerative disease, di mana bentuknya sangat beragam, lebih dari 100 jenis arthritis. Istilah arthritis sendiri berasal dari bahasa Yunani /Greek:Arthon /sendi dan it is/radang (www. wrm-Indonesia.org).
Rhematoid artritis adalah peradangan yang kronis sistemik, progresif dan lebih banyak terjadi pada wanita, pada usia 25-35 tahun (Brunner, 2002).
2.   ETIOLOGI
Penyebab dari artritis rhematoid belum dapat ditentukan secara pasti, tetapi dapat dibagi dalam 3 bagian, yaitu:
a.    Mekanisme imunitas (antigen antibodi) seperti interaksi IgG dari imunoglobulin dengan rhematoid faktor
b.Faktor metabolik
c. Infeksi dengan kecenderungan virus



3.    PATOFISIOLOGI
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular.  Peradangan yang berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi.  Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago.  Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer.Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.  Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).  Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.  Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang.Ditandai dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan.  Sementara ada orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi.  Yang lain. terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid) gangguan akan menjadi kronis yang progresif.
4.TANDA DAN GEJALA
Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning stiffness) dan gerakan terbatas, kekakuan berlangsung tidak lebih dari 30 menit dan dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya tidak berlangsung lama.Lambat laun membengkak, panas merah, lemah
5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a.         Tes serologi
-       Sedimentasi eritrosit meningkat
-       Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
-       Rhematoid faktor, terjadi 50-90% penderita

b.        Pemerikasaan radiologi
-       Periartricular osteoporosis, permulaan persendian erosi
-       Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan ankilosis
c.         Aspirasi sendi
-       Cairan sinovial menunjukkan adanya proses radang aseptik, cairan dari sendi dikultur dan bisa diperiksa secara makroskopik.

6.    PENATALAKSANAAN
Tujuan utama terapi adalah:
a.    Meringankan rasa nyeri dan peradangan
b.    memperatahankan fungsi sendi dan kapasitas fungsional maksimal penderita.
c.    Mencegah atau memperbaiki deformitas

1)        Pengobatan :
a.    Aspirin (anti nyeri)dosis antara 8 s.d 25 tablet perhari, kadar salisilat serum yang diharapakan adalah 20-25 mg per 100 ml
b.    Natrium kolin dan asetamenofen  meningkatkan toleransi saluran cerna terhadap terapi obat
c.    Obat anti malaria (hidroksiklorokuin, klorokuin) dosis 200 – 600 mg/hari  mengatasi keluhan sendi, memiliki efek steroid sparing sehingga menurunkan kebutuhan steroid yang diperlukan.
d.   Garam emas
e.    Kortikosteroid
f.     Nutrisi diet untuk penurunan berat badan yang berlebih
2)        Bila Rhematoid artritis progresif dan, menyebabkan kerusakan sendi, pembedahan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki fungsi. Pembedahan dan indikasinya sebagai berikut:
a.    Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi tertentu, untuk mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya kembali inflamasi.
b.    Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.
c.    Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut, tumit dan pergelangan tangan.
d.   Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat kembali dataran pada persendian.



















BAB III
TINJAUAN KASUS

A.  Karakteristik Demografi
1.    Data biografi
Nama                             :  Ny. R(Perempuan)
Tmpt & tgl.lahir :  jakarta
Pendidikan terakhir       : Tidak sekolah
Agama                           : Islam
Status perkawinan         : Kawin
TB/BB                           : 158 cm/65 kg
Alamat                           :  jl.No.
Orang dekat dihubungi             :  Nn. Erni( anak ke-4 )
Alamat                           : Jl. Kamp. Jati Rt 03/01
No telp.                          : tidak ada

2.    Riwayat pekerjaan
Pekerjaan saat ini : tidak bekerja. Tidak ada sumber pendapatan kecuali dari anaknya.Kebutuhan sehari-hari dipenuhi oleh anaknya.

3.    Riwayat lingkungan hidup
Tipe tempat tinggal permanent dengan jumlah kamar ada 6. Jumlah orang yang tinggal di rumah sebanyak 5 orang,  dengan kondisi tempat tinggal penerangan cukup, kebersihan dan kerapihan cukup,.sirkulasi udara cukup,keadaan kamar mandi cukup baik tidak terlalu tinggi dan tidak licin.

4.    Riwayat rekreasi
Hobi/minat : tidak ada aktivitas khusus hanya menonton televisi atau hanya tiduran saja di ruang tengah. Tidak terlibat dalam keanggotaan organisasi dan liburan atau perjalanan tidak pernah dilakukan.

5.    Riwayat keluarga
Ny.R seorang istri dengan anak 6 orang yaitu Tn.U (60th) bertempat tinggal di Bogor.Tn. N (48 th) bertempat tinggal di tanggerang.Tn. H (47 Th) bertempat tinnggal di cianjur,Nn.E (42 th) bertempat tinggal serumah dangan Ny. R.Tn. H(40 th) tinggal di jatinegara kaum,Tn. S(30 Th)juga tinggal di jatinegara kaum.Dalam satu tahun terakhir tidak ada riwayat kematian dalam keluarga.

B. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI
1. Nutrisi
Ny.R mengatakan frekuensi ia makan adalah 3x sehari dan nafsu makan baik, menu makanan yang dikonsumsi Ny.R sehari-hari bersama keluarga yaitu nasi,sayur,lauk pauk dan terkadang tersedia buah-buahan. Kebiasaan yang dilakukan olen Ny.R sebelum makan adalah mencuci tangan dan berdoa. Ny.R mengatakan bahwa ia tidak memakan duren,santan,bayam, toge.dan ia juga  mempunyai alergi yaitu udang. Dan ia mempunyai pantangan makan pedas dan asem karena dapat membuat perutnya menjadi perih dan mempunyai maag.

2. Eliminasi
            Ny.R mengatakan frekuensi BAKnya mulai sering dan waktunya tidak menentu apalagi saat malam hari. Ny.Rjuga mengatakan tidak mempunyai keluhan ketika BAK. Pada saat BAB Ny.R mengatakan terkadang BAB terasa keras frekuensi sehari tidak tentu dan Ny.r tidak pernah menggunakan obat pencahar.

3. Personal hygiene
            Ny.R mengatakan untuk perawatan diri masih bisa mandiri dengan kegiatan mandi 2x sehari pagi dan sore, mencuci rambut dengan frekuensi 2x sehari dengan menggunakan sabun. Dalam hal mengunting kuku Ny.R melakukannya bila kukunya terlahat sudah kotor dan panjang, Ny.R mengatakan kebiasaan sebelum makan adalah mencuci tangan dan berdoa.

4.  Istirahat dan Tidur
Ny.RLama tidur malam ±7 jam sehari dan ±3 jam tidur siang. Ny.P mengatakan kalau kurang tidur ia merasakan pusing.

5.      Kebiasaan Mengisi Waktu Luang
Ny. R mengatakan mengisi waktu luang dengan menonoton Tv dan tidur.

6.      Kebiasaan yang Mempengaruhi Kesehatan
Ny. R  tidak merokok, tidak meminum minuman keras dan tidak ketergantungan terhadap obat.


C.    STATUS KESEHATAN
1.      Kondisi kesehatan saat ini
Ny.R mengatakan dalam 1 tahun terakhiria merasakan kaki nya nyeri ,dan merasa kesemutan dan cepat merasa lelah,Terkadang perutnya suka terasa perih jika maag nya kambuh,mual,muntah,dan merasa kembung. Biasanya klien mengatasi dan mengurangi nyeri pada kakinya dengan menggunakan balsem dan mengatur posisi yang nyaman,dan di pijat-pijat.Dan untuk menghilangkan perih saat maag nya kambuh Ny.R meminum obat seperti promaag.

Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan di masyarakat dapat dilihat dari seringnya Ny.R datang ke bidan untukberobat jika sakit dan memeriksakan kesehatannya.


  1. Riwayat kesehatan masa lalu
Ny.R mengatakan tidak pernah menderita penyakit lain selain rematik dan maag , Ny.R mengatakan pernah mengalami kecelakaan jatuh dari motor beberapa tahun yang lalu.Ny. R pernah dirawat di rumah sakit karena operasi katarak.

  1. Pemeriksaan fisik
Saat dilakukan pengkajian didapatkan data Ny.R dengan rambut sudah beruban dan bersih TD 140/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, RR 20 x/menit, berat badan 65 kg, tinggi badan 158 cm, mata tampak berair, hidung tidak terdapat secret dan tidak ada kelainan penciuman, mukosa mulut lembab dan tidak ada stomatitis, tidak terdapat benjolan ataupun pembesaran getah bening, abdomen normal dan tidak ada keluhan, turgor kulit kurang elastis, ekstemitas bawah : klien mengeluh kaki nya terasa nyeri dan kesemutan jongkok dan cepat terasa lelah.

4.      Pengkajian Spesifik Pada Usia Lanjut
             a. Masalah kesehatan kronis
Ny.R mengatakan dalam 1 bulan terakhir ini ia merasakan keluhan yang mengganggu kesehatannya yaitu nyeri dan kesemutan pada sendi kaki. Dan hasil pengkajian tersebut didapatkan hasil atau skore < 26 artinya ada masalah/masalah kesehatan kronis sedang.

b. Fungsi kognitif
Saat dilakukan pengkajian pada Ny.R dengan hasil skore benar yaitu 3 artinya ada gangguan yaitu gangguan intelektual sedang.

c. Status fungsional
     Ny.R mengatakan masih mampu menjalankan aktivitas dengan mandiri tetapi terkadang dibantu oleh anaknya.sehingga di dapatkan hasil dengan skore 10 artinya ketergantungan.





























ANALISA DATA

No.
Data Fokus
Diagnosa keperawatan
1



















2.

















3.















4.
Ds:
-       Ny.R mengatakan pegal-pegal dan nyeri sendi di lutut
-       Ny.R mengatakan mengatasi nyeri sendi nya dengan mengolesi balsem atau duduk.
-       Ny.R mengatakan kesemutan pada lutut
-       Ny.P mengatakan cepat lelah dan nyeri saat berdiri terlalu lama atau berjalan jauh.
-        Skala nyeri : 5

Do :
-        BB : 65 kg
-        TB : 158 cm
-        TD : 140/80 mmhg
-        N    : 88 x/mnt
-        RR  : 20 x/mnt
-        Asam urat : 2,6

Ds:
-    Ny. R mengatakan kadang merasa pusing
-     Ny. R mengatakan kadang kepala sakit
-     Ny.R mengatakan punduknya kadang terasa sakit
-     Ny.R mengatakan jika darah tingginya kambuh pergi ke bidan
Do:
-    BB : 65 kg
-    TB : 158 cm
-    TD : 140/80 mmhg
-    N    : 88 x/mnt
-    RR  : 20 x/mnt
-    Saat di kaji Ny. R tidak menderita hipertensi.


Ds :
-        Ny.R mengatakan menderita gastritis ± 25 tahun yg lalu
-        Ny. R mengatakan perutnya kembung saat maag
-        Ny.R mengatakan maag nya akan kambuh jika ia telat makan atau makan pedas dan asam
-        Ny.R mengatakan jika maag nya kambuh ia meminum obat Maag
Do :
-        Ny.R saat pengkajian tidak sedang mengalami gastritis
-       Saat di palpasi dan perkusi perut tidak kembung


Ds:
-   Ny. R mengatakan pernah jatuh di ruang tamu
-   Ny.R mengatakan jatuh kaeran pusing
-   Ny. R mengatakan penglihatanya menurun
-   Ny.R mengatakan kalau berjalan harus pelan-pelan

Do:
-   Rumah tampak rapih
-   Lantai tidak licin



Gangguan rasa nyaman nyeri pada keluarga Tn.Y Khususnya Ny.R(85 th)b.d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan  masalah rematik.













Resiko hipertensi berulang pada keluarga Tn.Y terutama Ny.R b.d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan hipertensi













Risiko tinggi terjadinya gastritis berulang pada keluarga Tn.Y terutama Ny.R b.d ketidakmampuan keluarga merawat anngota keluarga dengan gastritis.
















Resiko jatuh berulang pada keluarga Tn.Y khususnya Ny.R b.d ketidakmampuan keluarga mempertahankan lingkungan rumah yang aman bagi lansia






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar